Buang Jong

Foto cerita Ritual Buang Jong oleh suku Sawang di Belitung dalam rangka Sail Wakatobi – Belitong dirangkai oleh Fuji Adriza menggunakan kamera analog.

Ketika sedang melahap pisang goreng di sebuah warung di pojok Tanjung Kelayang, Belitung, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada keramaian di kejauhan. “Mungkin acara Buang Jong-nya sudah mulai, boi,” ujar Bang Ardi, yang telah berbaik hati menampung saya bermalam di bawah meja warungnya—lengkap dengan sprei, selimut bekas karung segitiga biru, dan bantal. Kemarin sore seingat saya ia memang menyinggung-nyinggung soal Buang Jong, ritual yang dilakukan suku Sawang menjelang angin musim barat bertiup. Sekitar bulan November jika merujuk pada almanak keluaran Kementerian Pariwisata. Buang Jong pagi itu sepertinya dilaksanakan khusus untuk memeriahkan acara Sail Wakatobi-Belitong 2011. Kata Bang Ardi, puncak ritual Buang Jong adalah melarung replika kapal ke laut sebagai persembahan. Penasaran, saya langsung mengambil kamera dan berjalan nyeker ke arah keramaian.

Ritual berasik baru saja dimulai ketika saya tiba. Seorang pemuka adat suku Sawang seperti berada dalam keadaan trans, terasuki oleh makhluk halus yang memang sengaja dipanggil. Sang pemuka adat yang telah dirasuki makhluk gaib tersebut bertingkah aneh, ekspresinya janggal, dan seperti mendapat kekuatan dari langit, tetua berusia lanjut itu menjadi begitu lincah sampai-sampai mampu memanjat palang kayu segitiga yang tertancap di pasir. Konon, zaman dahulu ketika melakukan ritual ini, angin akan bertiup kencang dan ombak akan menjadi tinggi. Namun pagi itu biasa saja, angin sepoi-sepoi dan laut datar-datar saja.

Sesudahnya dipentaskan sebuah hikayat tentang pertarungan suku Sawang dan Lanun. Suku Sawang dipimpin oleh seorang lelaki, lain dengan kaum Lanun yang ternyata dipimpin oleh seorang perempuan—anda tentu masih ingat sepenggal cerita di novel Maryamah Karpov? Dalam akhir kisah, suku Sawang yang ternyata nenek moyangnya berasal dari Sulu, Filipina, berhasil mengalahkan kaum Lanun.

Sebelum jong (replika kapal) dibuang, dilakukan prosesi numbak duyung. Pada prosesi ini seorang anggota suku Sawang berkali-kali menombak replika ikan duyung dari gabus, sampai kena. Duyung adalah perlambang keberuntungan. Pada upacara yang sebenarnya, tombak yang digunakan untuk numbak duyung sudah dimantrai sehingga menjadi sangat tajam sampai-sampai bisa membunuh ikan duyung. Juga, pada upacara yang sebenarnya, numbak duyung diikuti dengan bersama-sama mencari ikan di laut.

Setelah prosesi-prosesi awal selesai, ramai-ramai orang membuang jong ke tengah laut. Jong yang juga diisi dengan sesajen dan ancak(replika rumah) diangkat dan diarak ke perahu, dibawa ke tengah sampai ke dekat Pulau Penyu, kemudian dilarung. Melalui persembahan ini, masyarakat suku Sawang berharap diberi perlindungan dan keselamatan oleh penguasa laut agar terhindar dari bencana.

024

 

010 copy

036

 

033

054

068

072

075

By | 2017-05-05T16:27:14+00:00 17th, May, 2015|Essai Foto|0 Comments

About the Author:

Fuji Adriza
Jika tidak sedang berkeliaran, ia menyanyi diiringi petikan ukulele.

Leave A Comment

[+] kaskus emoticons nartzco